29 Des 2013

Perbedaan takkan Pisahkan Kita

Posted by with No comments

"Tidak! Kau sahabatku dan mereka harus menyukaimu seperti aku menyukaimu!"
Aku Kate, umurku 13tahun. Ini adalah kisahku ketika aku bertemu dengannya. Max. Max sangat sayang padaku, ia menemaniku kemanapun aku pergi, kapanpun aku butuh, selalu memelukku saat aku bersedih dan merasa terbuang. Bukan hanya dia, akupun sayang padanya.


Ketika itu, aku berumur 7 tahun, aku tak mengerti apa yang salah padaku, sehingga aku selalu diolok-olok teman-temanku. Tak ada seorang pun yang mau berteman denganku. Aku sempurna. Aku tidak cacat. Aku memiliki semua apa yang aku mau. Apa yang salah denganku?
Aku selalu sendirian, pergi kesekolah. Duduk dibangku sekolah. Pulang sekolah. Bahkan dilingkungan rumahku. Bukan aku tak berusaha. Tapi mereka selalu jahat padaku. Aku selalu berusaha tampil sempurna agar aku dianggap. Tapi usahaku sia-sia. Untung saja ibu dan ayahku selalu menemaniku, sehingga aku tak kesepian. Walaupun setiap malam, aku selalu merasa sendiri. Disaat seharusnya aku tidur, aku justru diam didepan jendela kamarku dan melihat bintang. Berimajinasi. Dan melihat boneka beruang disana. Aku melihat seorang peri tersenyum padaku diantara bintang-bintang itu..
Suatu siang saat aku menikmati kesendirianku di jendela kamarku, masih berimajinasi, aku melihat lumba-lumba berkejaran diantara awan-awan. Aku juga melihat seorang anak sedang bermain dengan anjingnya. Disebelah sana ada peri yang tersenyum padaku. PERI itu! Iya! Peri yang aku liat ketika malam itu! Ia seakan mengulurkan tangannya dan memberikanku sebuah kertas. Aku meraihnya. Dan aku membaca tulisan yang ada di dalamnya. 
Peri itu menuliskan 
                   Namaku Clara, aku sering memperhatikanmu, kau selalu memandang ke arahku, tapi kau tak menyadari ada aku disini. Aku rasa kau kesepian. Sekarang turunlah kebawah, lihatlah diteras rumahmu ada seseorang yang akan selalu menemanimu. Aku menyayangimu Kate.

Aku melemparkan kertas itu, dan berlari menyusuri koridor rumahku menuju ke tangga. Aku semakin bersemangat menapaki satu persatu anak tangga itu. Seakan ada sesuatu yang harus aku kejar, dan itu akan membahagiakanku. Aku berharap ini adalah sebuah boneka beruang besar yang bisa aku ajak bermain kapan saja aku mau. Aku membukakan pintu, dan... LIHAT! Siapa di depanku!!
Seorang anak laki-laki tersenyum ke arahku. Dandanannya aneh. Mirip seperti pinokio. Sayangnya dia ini manusia. Bukan boneka beruang besar seperti yang aku kira. Aku menyentuhnya! Ia tersenyum. Manis. Sangat manis. Aku mengulurkan tanganku dan mengajaknya berkenalan. Namanya Max. Sama seperti tubuhnya yang tinggi. Nama Max memang pantas untuknya. Aku mengajaknya bermain keruang tengah dimana semua mainanku terletak. Ia tak suka mainan ku yang berbau robot. Ia mau kami menggambar.
Aku dan Max berlari menuju kamarku dan mengambil peralatan menggambar. Ia membawakan sebagian dan aku membawakan sisanya. Lalu kami ke taman belakang karna kami berencana untuk menggambar taman rumahku.
Aku tak lupa membawa cemilanku, karna ibuku selalu menyediakan beberapa makanan kecil untukku. Karna ibu pada siang hari harus bekerja. Oleh karena itu ia harus menyediakan semua itu agar aku tak kelaparan. Dulu, ibu menyediakan babysitter, sayangnya sama seperti teman-temanku yang lain, babysitter itu menjauh. Katanya karna aku nakal. Padahal aku tak pernah jahat padanya.
Hanya Max, hanya Max yang bisa membuatku tertawa. Membuatku bahagia dan selalu tersenyum.
Tak jarang aku dan Max bermain sampai larut. Ia terkadang tidur dikamarku. Tapi aku dan Max selalu berbicara berbisik kalau malam. Aku tak mau ayah dan ibuku tau. Kalau mereka tau. Aku pasti dimarahi.
Suatu pagi aku berencana untuk membawa Max ke sekolah. Aku ingin memperkenalkan Max pada teman-temanku. Mereka harus tau bahwa aku mampu mempunyai teman. Seperti Max. Yang baik dan menyayangi aku.
"Teman-teman! Lihatlah. Perkenalkan, namanya Max. Ia adalah temanku. Teman baikku. Mulai sekarang. Ia akan menemaniku kemanapun dan kapanpun aku mau!" Aku berteriak didepan kelas. Max disampingku. Aku memegang tangannya. Ia melemparkan senyumnya pada teman-temanku.
"Hai aku Max!" Katanya tak kalah bersemangat.
Tapi teman-temanku menertawakan aku. Mereka berkata aku gila. Mereka kembali mengolok-olokku. Aku menangis. Mereka kejam! Mereka tak punya perasaan! Mereka tak pernah menghargai aku! AKU BENCI MEREKA!!
Aku pergi dari sekolah. Aku berlari, secepat dan sekuat yang aku bisa. Aku meninggalkan Max jauh dibelakangku. Aku tak memikirkan perasaannya. Ake berlari menuju taman kota. Aku mencari tempat sejauh dan sehening mungkin. Sampai aku kelelahan dan aku akhirnya mendapatkannya. Nafasku tersengal, keringat bercucuran dari dahiku. Seluruh tubuhku memanas. Aku menjatuhkan tubuhku direrumputan. Aku memandang langit, dan kembali menangis. Ternyata Max juga kelelahan mengejarku. Katanya mengejarku sama seperti mengejar seekor cheetah.
Aku memuaskan hasratku untuk menangis dan berteriak. Aku memukul-mukul Max. Aku kecewa! Kenapa mereka jahat padaku? Kenapa!
Max bilang mereka pasti iri padaku. Karna aku bisa memiliki sahabat. Aku tak seharusnya menghabiskan airmataku untuk menangisi orang jahat seperti mereka. Max menatapku, menyeka airmataku dan meyakinkan aku bahwa ia akan selalu bersamaku. Menemaniku dan aku tak akan merasa kesepian lagi. Aku tersenyum. Tak terasa setetes airmataku jatuh lagi. Dan aku memeluk Max, erat.. Erat sekali. Tak terasa aku terlelap...
Aku terbangun ditempat tidurku dan melihat Max menatapku, ia tersenyum.
"Tadi kita ditaman kan?"
"Ya, tapi kau tidur dipelukkan ku. Aku tidak tega membangunkanmu. Kau nampak begitu lelah"
"Lalu kenapa aku sudah disini?"
"Aku menggendongmu sampai kerumah. Lain kali kalau kau lakukan ini lagi, aku akan meninggalkanmu!"
"Kenapa begitu?"
"Kau terlalu berat Kate! Hahaha" Ia mengusap kepalaku lembut. Aku tersipu.
"istirahatlah Kate. Besok kita akan menjalani hari melelahkan lagi. Kalau kau begini. Bagaimana kau bisa bermain denganku?. Tidurlah dan aku akan disini menjagamu"
Keesokan paginya Max mengetuk pintu rumahku. Aku membukakannya. Kebetulan aku belum sarapan dan aku ingin mengajaknya sarapan bersama ayah dan ibuku. Ini pertama kali ayah dan ibuku bertemu dengan Max. Aku juga ingin bercerita tentang Max yang sudah menjagaku selama 1tahun ini.
"Hai Max, kau nampak bersemangat. Ayo kita sarapan!"
"Kau tau aku masih lapar. Aku belum sarapan!"
"Aku kan selalu mengetahui apa yang kau inginkan Max."
Aku mempersilahkan Max duduk di meja makan. Aku memanggil ayah dan ibu untuk memperkenalka Max.
"Ayah ibu, ini Max."
Max tersenyum di bangkunya dan melambaikan tangan pada ayah dan ibuku
"Hai, aku Max. Senang bertemu kalian!"
Aku membantu Max membuat sarapannya. Ia memang selalu kesulitan saat harus mengoleskan selai ke atas rotinya. Tak jarang juga aku menertawakannya. Tapi Max tidak malu, karna dia bilang, mengoleskan selai ke roti lebih susah daripada menggendongku ketika pingsan! Hahaha.
Selesai sarapan aku dan Max bersiap menuju sekolah. Tapi ketika aku membuka pintu, ayah memanggilku dari ruang tengah.
"Kate, apa kau baik-baik saja?"
"Ya aku baik-baik saja. Ada apa ayah?"
"Tidak, aku melihat sesuatu yang aneh denganmu, hari ini kau ikut ayah bertemu dengan teman ayah ya?"
"Tapi? Bagaimana dengan Max? Ia pasti kesepian kalau aku tak bermain dengannya?"
"Kau boleh mengajaknya."
"Baiklah Ayah"
Sesampainya dirumah sakit.
Aku bingung kenapa aku harus kesini. Aku tidak sakit. Tapi kata ayah aku hanya di ajak mengobrol dengan dr. Mac yang tak lain adalah teman ayah. Dr. Mac menanyaiku bermacam-macam pertanyaan, tentang sekolah, teman-temanku, dan satu hal, ia bertanya tentang Max. Tak jarang ia nampak berfikir keras setelah mendengar jawabanku. Aku bingung ada apa ini. Semakin banyak pertanyaan aku semakin bosan. Max juga daritadi hilang ntah kemana. Aku permisi keluar dengan alasan aku ingin buang air. Tapi sebenarnya aku ingin mencari Max.
Aku keluar ruangan dan aku mendapati Max. Ia sedang menunduk, aku tak mengerti mengapa Max begitu aneh. 
"Apa kau baik-baik saja?"
"Aku tak apa-apa, hanya saja, aku rasa aku akan kehilanganmu"
"Kenapa kau berbicara begitu Max?"
"Dokter itu seakan-akan ingin mengusirku dari kehidupanmu"
"Tidak, ia hanya bertanya tentangmu. Itu saja. Tenanglah. Aku aka tetap bersamamu. 1 tahun bersamamu tak mudah untuk aku tinggalkan. Kau sahabat terbaikku Max"
Ia hanya tersenyum.
Ternyata ayah ikut menyusulku keluar, ia dan dr.Mac memperhatikan aku dari pintu masuk itu. Ayah menatapku kuatir. Apa salahku?
Sepulang dari tempat itu aku selalu tidak dibiarkan berbicara dengan Max walaupun sebentar. Ayah selalu berbicara, sehingga aku tak punya kesempatan untuk berbicara dengan Max. Setiap kali aku memulai pembicaraan dengan Max, ayah selalu menyelaku dengan pertanyaan pertanyaan tak penting. Kasihan Max.



Dirumah, ibu juga bertindak sama. Mereka berganti-gantian mengajakku berbicara. Tak jarang aku melihat Max merenung sendirian karna aku terlalu sibuk dengan ayah dan ibu.
2Minggu Kemudian..
Sejak kejadian di rumah sakit itu, Max terlihat sering murung. Ia selalu berkata bahwa ayah, ibu dan dr. Mac berniat menjauhkanku dan Max.
Hari ini adalah kali ke 5 aku bertemu dengan dr. Mac. Aku masih menjawab semua pertanyaan nya itu. Dan kali ini ia memberikanku beberapa obat. Aku tak mengerti! Aku baik-baik saja! Aku tak merasa sakit! Dan kata ayah setelah ini aku harus sering-sering kemari karna aku harus menjalani beberapa proses. Proses yag tidak menyakitkan. Hanya saja membosankan.
Sudah 4hari Max tak bertemu denganku. Ia bilang ia harus pergi kesuatu tempat. Ah, aku merindukanmu Max. Aku ingin bermain menggambar memancing bersepeda denganmu. Aku ingin brtemu denganmu lagi. Kau dimana?
Tiba-tiba Max sudah berdiri didepan pintu kamarku, ia membawakanku sejumlah bunga. Bunga mawar putih. Katanya aku secantik bunga ini. Entah semenjak kapan Max belajar untuk merayuku. Walaupun begitu, aku tetap menikmatinya. Aku menyayangimu Max.
.....
Hari ini ibu dan ayah mengemas barang-barangku, katanya aku harus menjalani karantina. Aku tak tau apa itu karantina. Mungkin semacam liburan. Aku tak mengerti. Tapi lagi-lagi aku dibawa kerumah sakit tempat dimana dr.Mac berada. Kata dr. Mac aku harus menginap disini selama beberapa hari, dan tak ada seorangpun boleh menemuiku. Kecuali ayah dan ibuku. 
Aku melihat Max, ia tampak sedih. Aku menghampirinya.
"Aku akan berusaha agar kita bisa bertemu Max"
"Tak perlu, aku sudah bilang, kalau mereka tak menyukaiku"
"Tidak! Kau sahabatku dan mereka harus menyukaimu seperti aku menyukaimu!"

Aku menghampiri dr. Mac "apakah Max boleh bertemu denganku? Selama aku disini?"
"Aku sudah bilang, yang boleh menemuimu hanya ayah dan ibumu"
"Tapi dia sahabatku!"
"Tidak, dia bukan sahabatmu Kate."
Dr. Mac hanya mengatakan itu sambil mengantarkan aku keruangan baruku. Ruangan baruku tanpa jendela. Hanya terdiri dari dinding dan beberapa perabotan standard. Disana ada sebuah boneka besar dan boneka kecil lainnya. Aku mengambilnya dan memeluknya. Aku menangis aku ingin bertemu Max.
....
Semenjak hari itu aku berpisah dengan Max. Aku merindukan Max. Aku bingung kenapa aku harus ada disini. Kenapa aku tidak boleh bertemu dengan Max. Kenapa aku dipisahkan? Kenapa aku harus minum obat? Aku tak sakit! Kata dr. Mac aku harus menulis buku harian. Dan aku menuliskan kata-kata rindu pada Max. Aku menuliskan tentang kebosanan ku pada ruangan ini. Dan aku ingin keluar dari ruangan ini.
Setelah beberapa bulan aku disini aku mulai melupakan Max. Bukan aku tak rindu, tapi ayah dan ibu membawakan sahabat baru untukku namanya Donita. Ia seorang anak perempuan. Ia terkadang menginap diruanga ini bersamaku. Ia baik dan menyayangiku.
6bulan kemudian...
Dr. Mac memanggilku keruangannya. Katanya ia memiliki kabar baik untukku.
"Apa kau sehat Kate?"
"Ya aku baik-baik saja, Mac, bagaimana denganmu?"
"Aku juga begitu. Begini, apa kau sudah bosan berada disini?"
"Sangat! Aku ingin bermain sepeda lagi. Aku ingin bermain ditaman lagi. Tempat ini memuakkanku!"
"Baiklah. Tapi bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?
"Apa itu?"
"Apa Max masih mengunjungimu?"
"Tidak, aku rasa ia meninggalkanku. Aku merindukannya Mac!"
"Dimana buku harian yang aku berikan padamu? Apa kau menulisnya?"
"Ya.. Aku menulisnya..Ini dia", aku memberikannya pada Mac
"Baiklah, sebentar lagi kau dijemput oleh ayah dan ibumu. Dan kau sudah sembuh Kate. Kau bebas lagi sekarang. Semoga kau tetap baik-baik saja"
Perjalanan pulang aku merenung, apa yang aku rasakan selama 8 bulan ini adalah hal paling membosankan selama aku hidup. Aku harus bermain didalam ruangan yang tertutup. Tak bisa melihat matahari. Burung-burung. Aku tak bisa bermain ditaman. Dan yang pasti, aku merindukan Max.. Max kau ada dimana? Aku membatin.
"Bu.."
"Iya sayang"
"Apa kau tau dimana Max?"
"Max itu tidak ada Kate"
"Apa maksudmu bu?"
"Apa kau tau, bahwa selama ini kau berkhayal tentang Max. Max adalah teman khayalanmu saja. Maafkan ibu yang tak memperhatikanmu."
"Jadi Max? Tidak ada?"
"Ya, kau hanya kesepian sayang, tapi sekarang kau punya Donita. Kau harus menyayanginya seperti kau menyayangi Max."
"Bu, apa aku gila?"
"Tidak, tapi kau hanya butuh teman. Kau tidak apa-apa"
Aku menangis. Aku merindukan seseorang yang tak pernah ada. Aku bermain bersama bayangan. Tertawa bersama bayangan yang aku buat sendiri. Namun Max begitu nyata  dan aku tak bisa memungkirinya. Max adalah bayangan terindah yang pernah ada. Max adalah yang terbaik.
Aku melihat fotoku dengan Max yang aku bingkai diatas mejaku. Baru aku sadari, aku sendirian difoto itu. Aku tidak bersama siapa-siapa. Max memang tidak ada...
Max... Seandainya kau nyata! Aku menyayangimu sampai detik ini...
"Meski kita berbeda usia, meski kau tak pernah tua, ataupun status kita yang berbeda, aku mencintaimu Max walaupun aku sudah sembuh..."
Sampai Jumpa Max.
Kate.

0 comments:

Posting Komentar